Jumat, 26 Februari 2016

Bank Bibit - Berlomba dengan Waktu

HIDUP kita bergantung pada tanaman. Tanaman adalah sumber pangan dan sandang. Tanaman merupakan sumber energi, bahan bangunan, dan obat-obatan yang menyelamatkan kehidupan. Binatang, unggas, dan serangga pun bergantung pada tanaman. Akan tetapi, menurut beberapa peneliti, seperempat tanaman yang ada di bumi ini terancam punah dalam kurun waktu 50 tahun mendatang. Pelopor pelestarian tanaman yang berlomba dengan waktu adalah Proyek Bank Bibit Milenium.
Bangunan senilai 120 juta dolar AS di Inggris bagian selatan itu, yang dielu-elukan sebagai ”Bahtera Nuh untuk tanaman” dan sebagai ”sarana yang menjamin terlindungnya planet ini”, akan mengamankan ratusan juta bibit yang dikumpulkan dari sejumlah spesies yang paling terancam punah dari muka bumi ini.

Apakah Bank Bibit Itu?
Pernahkan Anda menyimpan barang Anda yang berharga di bank agar aman sampai Anda memerlukannya lagi? Bank bibit menjalankan fungsi yang serupa bagi tanaman. Bank bibit merupakan cara yang mudah dan ekonomis untuk melestarikan jenis tanaman apa pun yang berbibit, dari herba terkecil hingga pohon tertinggi. Begitu disimpan, bibit tersebut tidak membutuhkan banyak perhatian. Kebanyakan bibit tidak makan banyak tempat. Satu ampul kaca kecil dapat menampung sejuta bibit anggrek! Sebuah toples biasa dapat memuat banyak bibit spesies lainnya yang sama jumlahnya dengan penduduk sebuah kota. Setelah melalui proses tertentu, semua bakal tanaman itu dapat dilestarikan dengan aman hingga berpuluh-puluh tahun, bahkan berabad-abad, jauh lebih lama daripada ketahanannya di alam bebas.
Bank bibit bukanlah hal baru, meskipun di masa lalu bank bibit dimanfaatkan terutama untuk tanaman pangan komersial. Pada tahun 1974, para ilmuwan Kebun Raya Kerajaan di Kew, London, mulai mempelajari cara melestarikan bibit tanaman liar di kantor cabang mereka di Wakehurst Place, daerah pinggiran Sussex. Setelah menyimpan 4.000 spesies yang berbeda dari seputar dunia, mereka sadar bahwa mereka memerlukan suatu proyek yang jauh lebih besar untuk memastikan agar tanaman-tanaman di seluas dunia serta habitatnya tidak punah. Oleh karena itu, pada tahun 1998, Kew mulai membangun bank bibit yang lebih besar di lahan Wakehurst Place.

Mencapai Tujuan-Tujuannya
Tujuan pertamanya, bahkan sebelum pembangunannya selesai, adalah menyimpan bibit dari segala jenis pohon, belukar berduri, rumput, semak, dan bunga liar di Inggris sebelum tahun 2000 berakhir. Dari 1.440 spesies asli, 317 spesies terancam punah. Sudah ada 579 spesies yang tersimpan di bank tersebut di Kew, dan suatu tim yang beranggotakan lebih dari 250 botanikus profesional maupun amatir menjelajahi negeri itu untuk mencari spesies-spesies selebihnya. Dengan semangat yang tinggi, mereka mendaki gunung, menuruni jurang, dan mengarungi air sedingin es demi mencari tanaman yang sulit didapat. Semua jenis bibit dapat ditemukan sebelum tenggat waktunya berakhir, kecuali segelintir spesimen langka.
Sejak tahun 2000, tujuan utama bank itu adalah mengumpulkan dan menyimpan sepersepuluh, atau lebih dari 24.000 spesies, flora berbibit di bumi ini sebelum tahun 2010, khususnya spesies-spesies yang tumbuh di daerah kering. Seperlima populasi manusia di bumi tinggal di daerah panas dan kering ini, dan bergantung pada tanaman untuk kelangsungan hidupnya, tetapi daerah yang berubah menjadi gurun semakin luas setiap tahunnya. Ekspedisi-ekspedisi pengumpulan bibit dimulai di beberapa negeri pada awal tahun 1997, dan pada bulan Februari 2001, para pemburu bibit dari Kew telah mengumpulkan 300 juta bibit dari 122 negeri, sehingga hanya sekitar 19.000 spesies lagi yang masih harus dikumpulkan.

Menyimpan Benih
Para pekebun dan petani telah lama mengumpulkan dan menyimpan bibit. Akan tetapi, bibit yang dikumpulkan dan disimpan di Bank Bibit Milenium akan hidup jauh lebih lama daripada jangka waktu kehidupan alamiahnya. Rahasianya terletak pada caranya bibit-bibit itu dikeringkan dan dibekukan.
Setelah benih yang dikumpulkan cukup banyak jumlahnya serta dibersihkan dari materi di sekitarnya, benih-benih itu ditaruh di dalam kantong kertas atau kain atau bahkan dalam botol minuman ringan sebelum dikirimkan ke Inggris. Sementara itu, para pengumpul bibit menyiapkan spesimen tanaman yang sudah dikeringkan dan diawetkan dari mana bibit itu berasal agar dapat diidentifikasi sesuai dengan prosedur di Kew, dan lokasi tempat ditemukannya bibit itu dicatat dengan menggunakan satelit navigasi.
Setibanya di Wakehurst Place, bibit-bibit itu menjalani dua tahap pengeringan yang sangat penting, diselingi suatu sesi pembersihan. Setelah ditaruh dalam dua ruangan yang memiliki kelembapan nisbi yang berbeda dan semakin rendah serta lebih kering daripada kebanyakan gurun, kandungan air bibit-bibit itu diturunkan dari sedikitnya 50 persen hingga sekitar 5 persen. Hal itu menjamin bibit-bibit itu tidak akan rusak sewaktu dibekukan dan memperlambat proses biologis bibit itu sampai mencapai kondisi seakan-akan mati suri, sehingga dapat tahan untuk jangka waktu yang sangat lama. Sebelum disimpan, sampel dari bibit itu diperiksa dengan sinar-X untuk melihat apakah bibit itu masih baik atau telah dirusak serangga. Sampel kedua diuji untuk mengetahui apakah bibit itu akan tumbuh atau tidak. Malahan, setiap sepuluh tahun, sampel-sampel diambil dan dihidupkan kembali untuk melihat apakah bibit itu masih siap tumbuh atau tidak. Jika jumlah bibit yang tumbuh kurang dari tiga perempat sampel yang diperiksa, bibit-bibit baru perlu dikumpulkan.

Mengetahui bagaimana bibit bereaksi terhadap penyimpanan jangka panjang serta cara menumbuhkannya di kemudian hari merupakan bidang yang penting dalam penelitian. Akhirnya, bibit-bibit itu dikemas dalam toples kaca kedap udara dan dimasukkan ke dalam salah satu dari dua ruangan pembeku bawah tanah yang terletak dalam bangunan besar dari beton. Di dalam ruangan pembeku itu, bibit-bibit ini, yang telah disusun dengan rapi pada rak-rak yang ada, memulai tidur panjangnya pada suhu -20 derajat Celsius.
Apakah proses itu berhasil? Ya. Beberapa tahun yang lalu, saat diadakan pengujian atas 3.000 jenis bibit tanaman yang telah disimpan selama sepuluh tahun, 94 persen di antaranya tumbuh.
Beberapa spesies menghadirkan masalah. Bibitnya mati jika kandungan airnya merosot tajam. Spesies-spesies itu antara lain adalah beberapa jenis pohon ek (Quercus), pohon cokelat (Theobroma cacao), dan pohon karet (Hevea brasiliensis). Tetapi, apabila bibit spesies-spesies itu dibekukan saat kandungan airnya masih tinggi, bibit itu justru akan mati, karena sewaktu membeku, air memuai dan mendobrak dinding sel bibit. Para ilmuwan sedang mencari cara untuk mengatasi masalah ini. Salah satu solusi yang mungkin dilakukan adalah dengan mengekstrak embrio bibit itu, mengeringkannya dengan sangat cepat, dan menyimpannya dalam nitrogen cair pada suhu yang sangat rendah.

Siapa yang Memperoleh Manfaatnya?
Sama seperti bank finansial, Bank Bibit Milenium melakukan transaksi pembayaran. Sampel-sampel bibit digunakan untuk penelitian. Seperempat dari semua obat diambil dari tanaman, meskipun 80% tanaman di dunia masih belum diteliti. Apa saja obat baru yang masih akan ditemukan? Suatu spesies tanaman semak (Vicia faba) dari Mediterania didapati mengandung protein pembeku darah yang dapat membantu mendeteksi kelainan yang langka pada darah manusia. Mungkin akan ditemukan pula jenis-jenis baru makanan, sumber energi, atau serat.
Para ilmuwan mancanegara tinggal di Bank itu seraya mempelajari cara menyimpan dan menumbuhkan bibit agar mereka dapat membangun bank bibit di negeri asalnya. Setiap negara yang menyetorkan bibit ke bank itu memegang saham yang penting, dan akan memperoleh hasil yang setara dari manfaat dan keuntungan penelitian apa pun yang dilakukan.
Dengan menggunakan sampel-sampel bibit untuk memulihkan lahan-lahan yang telah rusak serta meningkatkan stok spesies yang sangat terancam punah, strategi konservasi ini diharapkan akan turut meredam cepatnya kepunahan flora dunia serta banyak bentuk kehidupan yang bergantung padanya.

Bagaimana Perlombaan Itu Dimenangkan?
Tidak seorang pun dapat meragukan gentingnya situasi yang dihadapi umat manusia. Roger Smith, kepala departemen konservasi bibit di Kew, memberi tiga alasan untuk proyek ini, ”Alasan pertama adalah penggunaan langsung. Seberapa banyak yang kita ketahui tentang setiap tanaman, sehingga kalau tanaman itu lenyap, kita tahu seberapa besar kerugian yang diakibatkannya pada makanan atau obat-obatan? Alasan kedua adalah jaring kehidupan. Bayangkan bahwa seluruh spesies yang ada di bumi membentuk sebuah jaring, dan setiap spesiesnya adalah benang penghubung jaring itu. Berapa banyak benang penghubung yang dapat Anda putuskan sampai jaring itu tidak berfungsi lagi? Alasan yang paling kuat adalah soal kepengurusan. Apa hak generasi sekarang untuk mengambil alih kebebasan memilih dari generasi yang akan datang, dengan tidak meneruskan spesies-spesies yang diwarisinya?”
Tantangan masa depan sangatlah besar. Koordinator proyek, Steve Alton, mengatakan, ”Anda bisa saja punya segala jenis bibit yang ada di bumi ini, tetapi jika tidak ada habitat tempat tanaman itu akan ditanam, percuma saja menyimpan bibit-bibit itu.” Mungkinkah spesies-spesies yang hampir punah ini diselamatkan, dan pemeliharaan planet kita dipastikan akan dilaksanakan secara bertanggung jawab?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar